I Must Be Strong

child1I must be strong and carry on.. coz i know i don’t belong here in heaven. Itu sepenggal kalimat dari “Tears in Heaven” by Eric Clapton. Bukan lagu baru memang, bahkan jadul. Namun beberapa hari ini ada seorang teman yang membawa lagu ini kembali jadi tenar di telingaku. Thank’s friend, inget ya loe masih hutang lumpia ma gue.

Siapa sih Eric Clapton sebenarnya ? i don’t know, whom ? Temanku bilang dia banyak belajar dari dia. Katanya dulu Eric adalah siswa terbodoh. Banyak hal yang membuatnya belajar untuk bangkit dan berkembang menjadi Eric yang sekarang.

Tapi orang yang berkata “i must be strong and carry on” bukan cuma Eric. Hampir setiap hari aku melihat orang-orang berusaha saling mendukung dan menguatkan. Semua orang pasti pernah membisikan kedalam hatinya ”aku pasti kuat”. Itu pula yang kudengar dari seoarang anak laki-laki berusia 17 tahun yang mengalami kanker stadium akhir.

Huuuuhh… aku ingin menarik nafasku sebentar, karena begitu berat untuk bercerita tentang dia. Anak laki-laki tampan berkulit bersih dengan tubuh seperti alien (i love u, dik) datang dengan wajah pucat dan nafas yang berat diantar keluarganya. Dia tidak kuat menopang berat tubuhnya sendiri. Bagian atas tubuhnya dari mulai pergelangan tangan hingga merambat ke leher, dada, bahu, dan pungung sebelah kanan membesar tidak normal seperti badan atlet binaraga. Sedang tubuh sebelah kiri dalam keadaan normal.

Dia tidak banyak bicara. Juga tidak banya meminta. Dia juga tak bisa lepas dari oksigen, dan tidak pula pernah turun menginjakkan kakinya ke lantai rumah sakit, sekalipun dia dirawat beberapa hari di sana.

Sebelum menjadi alien, itu hanyalah benjolan sebesar kutil di pergelangan tangan. Tapi mengejutkan karena benjolan ini tidak pernah hilang dan terus berkembang selama beberapa tahun ini. Lalu kemudian si anak berobat ke spesialis penyakit dalam dan terdiagnosa ini adalah kanker yang diperkirakan stadium awal. Kemudian oleh dokter tersebut si anak tadi dirujuk ke rumah sakit khusus kanker di Jakarta.

Entah apa yang membuat pertimbangan keluarga sehingga mereka berpikir dari pada di bawa ke Jakarta lebih baik dibawa ke Sabah, Malaysia. Mungkin mereka fikir Malaysia lebih berkualitas dari pada Jakarta. Sebenarnya tidak masalah dibawa kemana saja. Asalkan rumah sakit itu adalah rumah sakit yang berkompeten untuk penderita kanker. Sayangnya rumah sakit yang dia kunjungi itu adalah rumah sakit umum, sekalipun tampak megah tapi tetap saja kurang memenuhi standar untuk pengobatan kanker.

Begitu sampai di sabah malaysia, oleh dokter di rumah sakit tersebut si anak langsung dimasukkan ke kamar operasi dan dilakukan operasi. Sepintas sepertinya tindakan yang sigap dan cepat. Tapi berhati-hatilah dengan kanker. Kanker bukanlah penyakit yang bisa diajak buru-buru. Jangan pernah tergesa-gesa dengan kanker.

Setelah itu seperti biasa jaringan dari kanker tersebut diambil dan dikirim ke laboratorium untuk menentukan jenis kanker ini apakah jinak atau ganas. Dengan alasan yang tidak diketahui oleh keluarga, jaringan tadi dikirim ke laboratorium terkenal di singapura, dan baru sekitar 1 bulan bisa didapatkan hasilnya.

Operasi selesai, tanda-tanda vital pun baik saja. Si anak tidak mengeluh apapun hanya merasa agak nyeri di tangan. Kata dokter, itu biasa sehabis operasi. Yah, namanya juga habis operasi. Lagi pula itu bukan benjolan yang besar. Operasi kecil saja sudah cukup. Finally si anak boleh pulang. Hanya kontrol-kontrol saja sudah cukup.

Tapi yang terjadi diluar perkiraan. Hari ketiga setelah operasi seperti biasa dilakukan pemeriksaan pada daerah operasi. Si anak masih juga merasa nyeri di tangannya. Lalu pada bekas operasi ditemukan jaringan baru yang tumbuh, tangan si anak pun agak membengkak. Dokter mengira ini adalah infeksi pasca operasi. Akhirnya kepulangan si anak laki-laki itu ditunda.

Yang terjadi selanjutnya adalah tangan si anak terus membesar, membesar, dan membesar seperti balon yang ditiup hingga gelembungnya maksimal hanya dalam waktu beberapa minggu. Dalam waktu 1 bulan kanker telah menyebar ke daerah lengan atas, leher, dada, bahkan paru-paru sebelah kanan pun juga terkena dampaknya. Kanker yang tadinya diperkirakan hanya stadium awal berubah secara drastis menjadi stadium akhir hanya dalam waktu beberapa minggu.

Akhirnya setelah 1 bulan hasil laboratorium dari singapura pun datang. Pihak dokter dari Malaysia tidak menjelaskan apa hasil laboratorium ini. Hanya mengatakan bahwa ini adalah kanker ganas.

Terdesak dengan biaya, karena operasi yang diperkirakan hanya beberapa hari ternyata berlangsung lebih dari satu bulan membuat keluarga si anak terpaksa membawanya pulang ke indonesia. Dan dirujuk ke rumah sakit tempat aku bekerja saat itu.

Seperti yang kuceritakan, dia datang dengan tubuh seperti alien (love u, dik), wajah pucat, nafas satu-satu. Dengan penyebaran kanker telah mencapai tiga per empat paru-paru dan mendesak jantung. Huhhh…. dia masih sangat muda. Hanya 17 tahun. Atas permintaan keluarga, dia dirawat oleh dokter yang dulu merujuknya ke Jakarta.

Dokter itu kaget, perkembangannya terlalu cepat. Dan ditanya bagaimana pronologis kejadian sampai terjadi penurunan kondisi dan perkembangan kanker yang drastis. Kemudian keluarga mengaku bahwa mereka membawa si anak ke Malaysia, bukan ke rumah sakit kanker seperti yang disarankan dokter. Kemudian dokter meminta hasil pemeriksaan jaringan. Dan yang mengejutkan adalah ini adalah salah satu jenis kanker ganas yang tidak boleh sama sekali tersentuh pisau operasi. Cara penyembuhannya hanya dengan kemotheraphy. Kanker ini akan menjadi berkali-kali lipat ganas bila tersentuh pisau operasi. Masih teringat di kepalaku waktu itu dokter berkata ”Saya merujuk ke jakarta, karena mumpung kanker ini masih stadium awal, dan biasanya rumah sakit khusus kanker bisa membedakan dan menentukan tindakan apa yang tepat”

Keluarganya menangis, menyesal, minta maaf pada anaknya karena tidak membawanya ke rumah sakit kanker seperti yang disarankan dokter. Si anak laki-laki dengan selang oksigen dan wajah pucat menjawab dengan senyum yang dipaksakan,
”Ma, aku pasti kuat! Dan aku sudah siap!”
Entah apa maksudnya sudah siap, yang jelas keluarganya menangis tersedu-sedu. Segala sesuatu yang tidak di pegang oleh ahlinya tunggulah kehancurannya.

Aku ingin berhenti sejenak sebelum kuceritakan bagian akhir kisah nyata ini. Lagu ini kupersembahkan untuk kamu dik, dimanapun kamu berada, walaupun kamu tau suaraku tak semerdu suara malaikat yang mendampingimu, kupersembahkan untukmu ”Tears in Heaven” ♥


Would u know my name…
If i saw u in heaven…
Would it be the same…
If i saw u in heaven…
I must be strong…

And carry on…
Cause i know i don’t belong
Here in heaven…


Sebelum menarik nafasnya yang terakhir si anak meminta diselimuti. Temanku yang mendampinginya menyelimutinya setinggi dada. Lalu anak laki-laki itu meminta diselimuti lebih tinggi. Dan temanku pun menyelimuti setinggi leher. Tapi anak itu meminta diselimuti lebih tinggi lagi. Dia bilang menutupi seluruh kepalanya. Temanku menolak dan berkata ”segini aja ya dik, ayo istirahat lagi!”. tapi si anak menolak ditinggal dan minta ditemani. Tiba-tiba wajahnya nampak ketakutan. Anehnya temanku pun melihat bayangan gelap tinggi besar yang datang menghampiri anak itu. Lalu temanku bilang ”Jangan dilihat, tutup matamu!” si anak laki-laki itu menurut dia menutup matanya. Kemudian anak tersebut mengatakan permintaannya yang terakhir.
”Mbak, tuntun aku!”
Temanku tidak mengerti, mau dituntun kemana, tapi mulut anak laki-laki itu seperti mau mengucapkan kalimat yang sangat berat
”Asy… a..a..Asyhadu..aa..”
Temanku mengerti dan cepat-cepat menyempurnakan kalimatnya. Pelan-pelan temanku menuntunnya hingga terucap kalimat sempurna
”Asyhadu Anla Illa ha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadarasulullah”

Dik, sudah kuceritakan kisahmu kepada semua orang. Kuharap mereka belajar dengan cepat dari apa yang kamu alami. Do’aku bersamamu. Yuk kita do’a kan bersama-sama agar dia mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
To my friend: I learn from many accidents that happen on my eyes

Dia Yang Tak Boleh Menyerah

Beberapa hari yang lalu aku membaca sebuah blog luar biasa yang ditulis oleh orang yang luar biasa pula. Tak disangka bahwa dia hanya gadis belia yang berusia belasan tahun tapi cukup memukau dengan ketegaran dan semangatnya. Tak disangka tulisannya membuatku banyak bersyukur, bahkan saat aku menghadapi masalah yang selama ini kupikir cukup berat.

Kemudian timbul niatku untuk berkata “Jangan Pernah Menyerah” dan kalian tidak boleh menyerah. Tulisanku yang pertama ini kepersembahkan untuk Sasie Kirana.

crying_in_the_rain1Apakah Saya Tidak Berhak Sembuh

Sehari setelah aku membaca blog milik Sasie, seorang pasien datang ke klinik tempat aku bekerja. Bukan klinik besar, hanya klinik kecil di pinggiran kalimantan. Dengan empat tempat tidur. Pasien tersebut datang juga bukan dengan keluhan macam-macam. Tapi hanya mau suntik KB (Biasa ibu-ibu ).

Dan sejujurnya masalahnya bukan pada si ibu muda tersebut. Tapi si ibu bercerita tentang Ayahnya yang sedang terserang Kanker Usus Besar (CA Colon) stadium IV. Dan harus menjalani kemotherapy dan karena kanker tersebut berada di usus besar maka mau tidak mau terpaksa di lakukan Colostomy, atau semacam tempat pembuangan kotoran tanpa melewati anus. yah… dilubangi gitu deh perutnya.

Ada hal yang membuat terharu bahwa si Bapak tersebut saat ini telah berusia 70 tahun. Wooowwww….!!!!

Kita semua tahu bahwa proses kemotherapy tidaklah mudah, mulai dari muntah yang tak ada habis-habisnya, seluruh bulu dan rambut di tubuh rontok, dan tubuh rasanya tidak bersahabat, bahkan tidak sedikit orang yang mengalami perdarahan lambung.

Bayangkan ibarat racun yang disuntikkan ke dalam tubuh untuk menghentikan pertumbuhan tak terkontrol dari sel yang melekat dan tumbuh sebagai parasit ganas dalam tubuh kita. Menempel bersama organ-organ lainnya. Huuuhhh…!!!!

Yang menyuntikkan saja harus ekstra protective karena radiasi obat itu saja sudah bisa memotong DNA yang ada ditubuh. Itu sebabnya kemotherapy tidak dilakukan di semua rumah sakit. Tapi hanya pada rumah sakit tertentu yang memiliki proteksi yang baik.

Dan kabar baiknya adalah si Bapak berusia 70 tahun ini menjalani semua proses pengobatan yang melelahkan, menyakitkan, dan luar biasa menghabiskan banyak waktu, uang, dan tenaga. Padahal bila dia sedikit berpikir untuk apa capek-capek menyiksa diri dan menghabiskan uang untuk berobat, toh dia juga sudah 70 tahun. Yahhh… kata orang sih udah bau tanah (eh orang loh yang ngomong bukan aku! sueerrr!!! sssttt.. jangan bilang-bilang bapaknya ya… semoga bapak itu ga baca blog ini. Amien).

Dan sekarang si Bapak sudah beberapa kali bolak-balik Jakarta-kalimantan (naik pesawat lohh!!! bukan oplet). Setiap kali beliau pulang ke rumah keadaannya sungguh mengiris. Tapi si bapak tidak pernah berhenti tersenyum dan berlagak kuat seolah beliau ingin berkata “Aku baik-baik saja”. Hehehe.. kayak lagunya Ratu.

Terakhir kali beliau menjalani kemotherapy sekitar 2 minggu yang lalu. Si dokter yang menangani kasus bapak ini menggeleng-gelengkan kepalanya

“Apa yang membuat bapak terus datang kemari dan tetap ingin berobat, padahal kita tahu bahwa usia bapak sudah 70 tahun?” tanya si dokter

dan si bapak menjawab

Apakah saya tidak berhak sembuh, dok? hanya karena saya berusia 70 tahun”

Semangat yang hebat dan luar biasa dari seorang bapak berusia 70 tahun. Tentu saja semua orang berhak sembuh, tentu saja semua orang berhak punya mimpi, cita-cita, harapan, tentu saja semua orang berhak mendapatkan pengobatan. Dan pintu keberhasilan terbuka selebar-lebarnya bagi orang-orang yang tidak pernah berhenti berusaha. Bagaimanapun hasilnya adalah rahasia Tuhan. Sekedar mengingatkan bahwa Allah SWT membenci orang-orang yang berputus asa.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.