A Story For Raj
Suatu hari di negeri naga, seorang raja sangat marah dan sangat ingin membunuh naganya. Dia berkeliling ke seluruh negeri mencari petunjuk dimana naganya bersembunyi dan terus mengejar untuk membunuhnya. Sampai pada suatu hari mereka dipertemukan dalam suatu pertempuran. Dan raja berusaha sekuat tenaga untuk membunuh naga itu.
“Berani benar kau mencoba membunuhku, apa kau tidak ingat siapa temanmu selama ini?” kata sang naga
“Aku tidak peduli, kau harus mati, aku tidak akan tenang sebelum kau mati. Kau telah membuatku kehilangan keluargaku, mereka semua meninggalkanku. Aku memencimu!” kata sang raja
“Aku selalu terpesona bersamamu. Kau memberikan mimpi-mimpi palsu!” sambung sang raja
“Ohh… dasar tidak tau terimakasih! Aku menenalmu jauh sebelum kau mengenal istrimu, jauh sebelum kau memiliki anak!”
”Siapa yang membantumu mendapatkan istrimu. Hellooo… apakah dulu tanpa bantuanku dia mau menoleh padamu?”
”Bahkan kau selalu bersembunyi dibelakang sayapku. Bahkan dia tidak sudi menatapmu!” ejek sang naga
”Tapi mereka adalah darah dagingku. Putraku lahir karena aku, dan istriku mengandung karena perbuatanku. Mereka ada karena aku. Sedang kan kamu….??? kamu adalah binatang!” jawab sang raja
Si naga terdiam terpaku mendengar ucapan sang raja. Kemudian dengan langkah sedih dan kepakan sayap yang berat, dia pergi meninggalkan sang raja. Namun sebelum pergi sang naga berkata…
”Aku adalah binatang? Harusnya aku sadar dari dulu bahwa aku bukan keluargamu!”
”Aku hanya peliharaan”
Lalu sang naga terbang kearah matahari terbenam. Meninggalkan sang raja seorang diri. Pertempuran dua sahabat antara naga dan manusia. Pertempuran yang seharusnya tidak pernah diharapkan oleh mereka. Dua sahabat yang saling sayang dan saling menjaga berada pada satu arena perang, saling memburu dan saling menghina. Bukankah dunia ini sangat tragis?
Senja berganti petang kemudian datang sinar pagi, hingga senja lagi. Sang raja tak pernah lagi melihat jejak naga sahabatnya. Dia kembali ke keluarganya dan hidup bahagia dari hari ke hari. Sang raja berfikir inilah akhir dari kisahnya, hidup bahagia selamanya hingga akhir hidupnya.
Namun dia keliru. Raja tidak pernah bisa memaafkan dirinya atas tindakannya terhadap sahabatnya. Akhirnya sekali lagi dia pergi berkeliling dunia, ke seluruh negeri, ke segala penjuru, hingga pelosok dunia yang sulit sekalipun untuk dijangkau. Namun tak sekalipun dia mendengar kabar sahabatnya.
Akhirnya dia lelah. Sang rajapun akhirnya pulang ke kastil tempat keluarganya tinggal tanpa hasil apapun. Wajahnya penuh kerutan, dan rambut uban putih mengambil alih ketampanan dan kewibawaan. Laki-laki yang dulu berangkat dengan gagah perkasa kini pulang dengan dipapah tongkat. Semangat keberaniannya masih terpancar. Hanya saja tidak kontras dengan tubuh yang membalutnya kini.
Waktu, masa muda, dan kebahagiaan keluarga yang diabaikan untuk mencari sahabatnya. Bagaimana mungkin dia bisa bahagia sedangkan sahabatnya menderita. Dulu dia mengejar sahabatnya karena ingin membunuhnya, kini dia begitu berharap sahabatnya hadir bersamanya sekali lagi. Mengelilingi awan, dan tertawa bersama angin.
”ohhh… sahabatku, dimana sebenarnya dirimu?”
Hingga pada suatu masa. Ketika dia merasa ini akhir perjalanan hidupnya, sang raja berdo’a.
”Tuhan, berikan aku kesempatan sekali lagi, untuk bertemu sahabatku, izinkan aku sekali saja untuk berkata…”
”MAAF”
Kemudian sang raja mengeluarkan pedang yang selama ini menemani hidupnya. Pedang yang banyak menghunus musuh-musuhnya, kini berada di genggaman laki-laki tua yang bukan lagi seorang raja.
Dengan cepat sang raja menebaskan pedang itu ke tangannya sendiri dan memotong pergelangan tangannya. Darah membanjiri lantai, sangat banyak…
Kita semua tahu bahwa naga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh penunggangnya. Dikejauhan sana, sang naga pun merasakan sakit luar biasa, seperti ada yang menebas pergelangan tangannya. Lalu secepat kilat naga terbang dan mencari penunggangnya. Secepat mungkin dia datang, secepat mungkin ingin membantu sahabatnya.
Dan akhirnya naga tiba di balkon kastil. Tempat sang raja menunggu naganya.
”Oh tuanku, ada apa denganmu? Siapa yang melakukan ini?” Kata sang naga
”Jangan khawatir sahabatku aku yang melakukannya sendiri”
”Aku tau umurku tidak lama lagi, dan akupun sudah tidak muda lagi”
”Aku sangat takut Tuhan memanggilku sebelum aku bertemu engkau. Kau tau aku mencarimu keseluruh pelosok negeri. Untuk sekali saja dalam sisa hidupku meminta maaf padamu. Maafkan aku yang telah menyakiti hatimu, melukai perasaanmu, memburu untuk membunuhmu, menghunuskan pedang padamu. Maafkan aku yan tidak tau terimakasih”
”ohhh… tuanku!!! Aku tau kau tak pernah berniat menyakitiku. Aku tau kau adalah orang yang berhati mulia. Aku tau lebih baik dari pada siapa pun. Naga tak pernah hidup lebih lama dari pada tuannya”
”Semua yang terjadi dimasa lalu adalah masa yang lalu. Tidak ada gunanya dibuka atau diingat lagi. Tenanglah tuanku, aku akan berada disisimu sampai ajal menjemput kita”
Itu adalah kalimat terakhir yang terucap dari bibir mereka berdua. Setelah mendapatkan maaf dari sahabatnya ajal pun segera menjemputnya.
Kemudian sang naga mengepakkan sayapnya selebar mungkin dan memeluk sahabatnya sekuat mungkin. Raja wafat dipangkuan seekor naga. Tak lama kemudian naga pun bercahaya pudar, berubah menjadi debu dan tertiup angin…. Ia pun menghilang, naga tak pernah hidup melebihi tuannya.
Nb: Cerita ini pertama kali kubuat untuk Raj temanku di india dalam bahasa inggris dan kalimat yang lebih sederhana. Kemudian kutulis lagi dalam sebuah buku sebagai hadiah ulang tahun seorang teman yang ke 24 di akhir bulan desember. Sayangnya hingga saat ini karena suatu alasan buku itu tak pernah sampai kepadanya. Hari ini cerita ini kutulis lagi untuk seorang teman yang kembali kepadaku.
Januari
Januari. Selalu ada harapan di januari. Tapi buat sebagian orang seperti Glenn Fredly, januari merupakan akhir kisah mereka. Tapi tidak buatku. Hidupku baru saja dimulai di bulan pembuka tahun ini. Disinilah ujianku dimulai lagi. Ujian tentang keikhlasan, tentang kekuatan, semangat dan kerendahan hati. Narsis (bangeeetttt). Seorang teman dari aceh berkata padaku, cinta adalah bahagia saat melihat yang dicintainya bahagia. Cinta itu memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya, sekalipun kau berharap mengambil seluruhnya yang ada pada dirinya hingga tak tersisa satu tempat pun untuk yang lain. Yah… itu memang cinta.
Di januari 2009 aku kehilangan seorang pasien, setelah sekian lama tak pernah ada kematian di tanganku. Di januari seorang ibu berusia 45 tahun dengan usia kehamilan 40 minggu meninggal menggenaskan. Januari yang berat. Tapi seperti yang kubilang hidup baru saja dimulai. Aku bersyukur karena waktu itu sekalipun berat ada seorang teman yang selalu berkata ”jangan menyalahkan diri sendiri, jangan ditangisi, yang pergi memang harus pergi, kita tidak tahu kehendak Tuhan seperti apa, kita do’akan saja semoga dia mendapatkan tempat yang baik disisi-Nya”. Friend, kamu dimana sekarang?
Di januari, ada seorang anak Akademi Kebidanan (Akbid) yang numpang magang di klinik milik keluargaku. Hari pertama dia magang, ada seorang pasien yang hendak melahirkan. Dan ternyata suami dari si pasien itu mengenal baik anak Akbid tadi. Yang setelah diusut-usut mereka pernah dekat (loh… kok jadi gosip sih???). hehehe… Cuma sekedar intro doang. Well.. hari yang sama dan waktu yang sama pula dimana kami sedang menunggu si ibu sampai pembukaan lengkap, seorang ibu paruh baya sedang hamil tua, datang dengan nafas berat dan ngos-ngosan. Dia bilang manggah (bahasa banjar:capek/ngos-ngosan) habis jalan dari rumah. Dia mengeluh sakit pada bagian bawah dekat tulang kemaluan, sering kencing, dan dada agak sesak rasanya. Dia datang minta diperiksa apakah ada pembukaan karena dia sudah merasa perutnya kencang-kencang, dan memang sudah keluar lendir darah. Dia juga bilang perutnya agak perih, karena dia memang sudah lama punya penyakit maagh.
Apa aku sudah bilang kalau aku bekerja di klinik milik keluargaku. Jangan berfikir ini klinik besar. Ini hanya klinik kecil, dengan 4 tempat tidur. Klinik yang berada di pinggiran kota, dengan fasilitas seadanya. Ditengah kampung. Klinikku berada di diantara orang-orang yang hebat. Yang tau artinya menolong, menyayangi, dan saling menguatkan. Yah aku punya kewajiban untuk berterimakasih pada mereka semua. Terimakasih ya pak, terimakasih ya bu (he3x… seperti sambutan tujuh belasan), sekalipun kesannya seperti main-main tapi aku benar-benar berterimakasih.
And then, tanteku ternyata mengenal ibu paruh baya itu yang ternyata tinggal tidak jauh dari klinik. Tetangga kami. Tanteku juga hapal dengan taksiran persalinan yang ternyata sudah lewat bulan. Ibu paruh baya itu selama kehamilan, hanya beberapa kali saja datang untuk kontrol. Tidak tahu apa alasannya. Padahal rumahnya dekat sekali dengan klinik, hanya sekitar 100 meter. Tapi dari beberapa kali pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda peningkatan tekanan darah, atau pun keluhan yang berarti. Bahkan selama kehamilan tekanan darah beliau cenderung rendah. Namun yang mengejutkan hari itu si ibu mengalami peningkatan tekanan darah yakni 150/90 mmHg. Dari hasil auskultasi (itu loh yang dengerin bunyi jantung, paru-paru, bising usus,dll) tidak ditemukan weezing, murmur, ataupun krepitasi (pokoknya itu bunyi yang macem-macem di jantung ’n paru-paru deh. Titik. Ga’ pake penjelasan lagi). Kemudian pemeriksaan pun berlanjut apakah ada pembukaan jalan lahir atau tidak. Dan ternyata ada sekitar dua jari sempit. Yah.. sekedar pengetahuan buat kalian yang tidak tahu, bahwa pembukaan jalan lahir itu sampai sekitar 10 cm, baru boleh ngejan. Denyut jantung janin pun terdengar kuat dan kencang sekitar 142 kali/menit, yang menandakan janin dalam keadaan sehat.
Sangat penting bagi tim medis menurunkan tekanan darah pasien pada saat itu, mengingat ibu akan segera menghadapi proses kelahiran. So si ibu diberikan satu tablet penurun tekanan darah yang diminum langsung di klinik. Dan tablet antasida untuk mengurangi perih di lambungnya.
Karena pembukaan jalan lahir masih dua jari sempit, si ibu pun meminta ijin pulang dulu, dia bilang mau siap-siap di rumah. Melihat kondisi si ibu yang nampak tidak sehat ditambah tekanan darah yang meningkat, aku pun menawarkan diri untuk mengantar pulang. Si ibu menolak karena rumahnya sangat dekat. Tapi di kepalaku berfikir tidak boleh membiarkan pasien hipertensi melakukan pekerjaan sekecil apapun tanpa di dampingi, apalagi beliau baru saja minum obat penurun tekanan. Aku khawatir bila tekanan darah pasien turun tiba-tiba, pasien bisa syok dan jatuh pingsan. Itu yang ada di pikiranku saat itu. Sehingga aku terus memaksa, tapi si ibu terus saja menolak, dan kekeh untuk pulang sendiri.
Yang terjadi beberapa saat kemudian begitu cepat. Huuhhh…. aku berkewajiban menyampaikan pada banyak orang. Tentang kebenaran. Dan kuharap kalian belajar cepat dari cerita yang akan kusampaikan. Entah siapa yang salah dan siapa yang benar, dan aku pun tidak ingin membela diri. Kepada pihak keluarga kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sekedar flash back untuk mengenang beliau, ibu itu sangat baik dan ramah. Dia juga sangat sayang pada kami. Begitupun keluarganya. Terakhir yang beliau bilang, dia tidak mau anaknya lahir di tempat lain, dia hanya mau di klinik kami…Ya Allah.. ampuni kami kalau itu memang salah kami.
Begitu ibu itu pulang, dilakukan pemeriksaan ulang pada pasien pertama yang sedari tadi sudah kesakitan. Dan memang dari hasil pemerikasaan pembukaannya sudah hampir lengkap, tinggal menunggu sebentar lagi. Kami pun bersiap-siap memakai sarung tangan steril dan skot. Tapi… tiba-tiba pintu di ketok oleh seorang anak perempuan berusia sekitar 18 tahun.
”Bu bidan… ibu kejang… mulutnya keluar busa!!!”
Tanteku kaget dan langsung lari. Tanpa membawa apapun. Aku tau tanteku pasti butuh Tensimeter dan secepat mungkin aku mengejarnya di belakang, begitu tensi itu sampai di tangan beliau, tanteku langsung berteriak lagi ”oksigen!!!!”
Aku pun berlari sekencang mungkin, secepat aku bisa kembali ke klinik untuk mengambil oksigen. Dalam hati, sambil terus berlari aku berdo’a ”Ya Allah cepatkanlah kakiku berlari, secepat mungkin, ada orang yang nyawanya tergantung dari seberapa cepat kakiku!!!”
Sesampainya di klinik, secepat mungkin mengambil oksigen, dan secepat mungkin mengantar kembali kesana. Tapi tanteku sudah menyusul dengan angkot bersama pasien yang masih berbusa, diikuti keluarganya. Aku berlari mengantar oksigen ke angkot tersebut. Kemudian aku cepat-cepat masuk ke klinik dan mengambil cairan infus, infus set dan abocut. Aku tahu mereka pasti sangat butuh ini. Aku pun berlari mengejar angkot yang sudah jalan, secepat mungkin…. sekencang mungkin… dan akhirnya aku berhasil, cairan pun sudah kuberikan pada tanteku. Sekilas aku melihat pasien itu sudah biru.
Hidup harus berjalan. Ada seorang pasien lagi yang sedang menunggu di klinik. sekalipun lebih muda, tapi pasien itu pun sedang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan bayinya. Kemudian kuusap keringatku, dan mencoba menghirup nafas panjang, siap untuk menolong persalinan. Tidak boleh memanjakan hati. Aku harus lebih kuat dari siapapun. Karena pasienku tergantung padaku.
Ditengah persalinan tanteku datang, dengan wajah pucat. Membawa kabar buruk. Ibu itu meninggal. Tidak tertolong. Bayinya pun tidak bisa diselamatkan. Ibu dan janin, keduanya tidak ada yang selamat. Dua nyawa… Tuhan, dua nyawa…
Aku bisa melihat tanteku yang paling terpukul. Tapi beliau pula yang tampak paling tegar. Orang yang dikenalnya sangat baik, begitu ramah, percaya, dan menyayanginya meninggal di pelukannya tanpa bisa melakukan apapun. Kata tanteku waktu dia datang ibu itu sebenarnya sudah tidak ada, pupilnya dilatasi (pupil mata membesar), abnue (biru), pembuluh darahnya sudah kolaps (mengecil), sehingga tidak bisa dipasang infuse. Tapi tanteku berharap dia salah, jadi beliau tetap kekeh membawanya ke rumah sakit terdekat.
Pihak keluarga sempat menyalahkan kami, walaupun akhirnya mereka memaklumi. Obat yang kami berikan tadi dibawa ke rumah sakit dan ditunjukkan ke dokter. Tentu saja si dokter bilang itu tidak ada pengaruhnya, karena itu cuma obat maagh biasa. Bila melihat hasil visum dari kondisi mayat, kemungkinan ibu itu mengalami serangan jantung. Dan bila memang itu penyebabnya, saat serangan terjadi pasien hanya bisa bertahan selama 2 menit. Seharusnya tim medis lebih cepat dalam bertindak. Tapi kakiku sudah berlari secepat yang aku bisa… dan aku masih tidak berhasil menyusulnya.
Jangan bertanya apa yang kupikirkan saat itu. Aku pun tidak tahu apa yang ada dikepalaku, berbagai macam pengandaian datang penuh sesak memenuhi kepalaku dengan banyak teori-teori medis. Lalu seorang teman yang sangat ingin kudengar suaranya mengirim sms ”jangan menyalahkan diri sendiri, jangan ditangisi, yang pergi memang harus pergi, kita tidak tahu kehendak Tuhan seperti apa, kita do’akan saja semoga dia mendapatkan tempat yang baik disisi-Nya”
Sekarang kita sudah memasuki bulan maret. Temanku yang dulu memberikan kekuatan padaku, yang sudah beberapa minggu tak kudengar kabar beritanya, beberapa hari lalu memainkan gitarnya dan menyanyiakan lagu untukku yang berjudul ”Januari”.
Sebelum kalian meninggalkan blog ini meskipun disetiap cerita aku selalu meminta, aku mohon dengan sangat untuk diam beberapa saat kumohon bantu aku untuk berdo’a, Semoga Beliau di ampuni dosa-dosanya, diterima amal baiknya dan mendapat tempat terbaik disisi-Nya. Amien
Nb. Di januari kembali aku belajar, mencintai berarti mengikhlaskan agar dia bahagia. Mencintai berarti merendahkan hati, memberi semangat orang-orang yang kita cintai, dan menjadi kekuatan bagi mereka. Apa yang aku dapat? Yang kudapat adalah aku bisa melihat mereka tersenyum bahkan bila beruntung aku melihat mereka tertawa lepas … dan aku tidak menyakiti orang yang kucintai.
Are You Afraid?
“Kalau berani hidup berarti harus berani mati”. Itu kukutip dari komentar kakakku pada ”I Must Be Strong”. Seneng sekali rasanya dia bisa mengunjungi blog yang pertama kali kutulis. Thank’s ya mas, tapi ’ntar komentarnya yang baik-baik aja (hehehe..). kalo ga’ kuaduin sama ibu nih. Biar di jewer.
But it’s ok, i’d love that’s word. Membuatku teringat pada seorang anak laki-laki berusia sekitar 9 tahun. Yang suaranya bisa kudengar dari jarak beberapa meter setiap kali dia datang. Yah.. lagu yang sama.. karya dia sendiri tentunya. Aku jadi ingin tersenyum, karena lagu anehnya itu kehadirannya selalu ditunggu-tunggu oleh aku dan teman-temanku. Anak laki-laki penderita Talasemia yang tidak pernah sadar bahwa dia menderita talasemia. Semacam kelainan darah dimana terjadi kerusakan sel darah merah sehingga eritrosit tidak bisa bertahan lebih dari 100 hari.
Dan hari itu aku dengar lagu anehnya untuk pertama kali.
”ohhh… aku takut…” ”aku takut….!!!!” ”kutakut bapakmu” ”ohhh.. akutakut” ”aku takut bapakmu!!!”
Lagu yang aneh kan. Dia datang sambil membawa satu kantong darah. Dan setumpuk koran yang sepertinya tidak laku terjual. Keceriaannya tetap saja nampak seperti anak-anak lainnya. Hanya saja warna kulitnya agak kusam, perutnya membesar, dan wajahnya berbentuk agak aneh, seperti khasnya anak-anak talasemia lainnya.
Anehnya dia sepertinya sudah hapal dan tau benar kalau aku waktu itu hanya mahasiswa yang sedang praktek di bangsal anak (Pedyatric). Sehingga anak itu hanya melewatiku dan teman-temanku begitu saja, dan datang ke ruang perawat dimana para perawat senior sering berkumpul.
Aku yang tidak tau apa-apa tentang anak itu pun tak mau ambil pusing. Kupikir hanya pedagang koran yang lewat dan hendak menawarkan koran yang ada di genggamannya. Tapi tidak lama kemudian dia keluar bersama seorang perawat senior memasuki ruangan yang kosong. Aku bisa melihat dari tempat dudukku dan masih teringat ketika anak tersebut diberikan sekantong darah melalui proses transfusi. Tak ada ketakutan atau tangisan khas anak kecil. Entah apakah itu tegar, atau karena sudah terbiasa atau dia sadar bahwa dia hanya bisa hidup dengan bantuan sekantong darah. Apapun jawabannya aku tidak bisa beranjak dari tempat dudukku saat itu, tidak bisa menghentikan mataku yang terus takjub pada seorang anak bertampang aneh, bertubuh aneh, dengan lagu yang tidak kalah aneh. Huh.. anak yang aneh. Seolah hidup tak pernah bisa mengalahkannya.
Tiga tahun telah berlalu. Dan akhirnya aku duduk di smester akhir perkuliahan. Sebagai mahasiswa tingkat akhir aku tengah disibukkan dengan banyak ujian dan praktek-praktek mandiri di setiap ruangan rumah sakit. Tidak terkecuali bangsal anak di rumah sakit umum terbesar di kotaku. Untuk kesekian kali aku kembali lagi ke bangsal ini. Lalu sayup-sayup dari kejauhan, aku mendengar lagu aneh yang tidak pernah berubah selama 3 tahun ini. Yup.. benar, anak penjual koran dengan dua kantong darah. Kulitnya lebih kelabu kekuning-kuningan dan perutnya lebih besar.
”mbak biasa…. nih udah kuangetin darahnya tinggal pake!” katanya menghampiriku.
Aku tersenyum padanya, dan segera bergegas kekamar perawat untuk mengambil abocut, infus set dan beberapa peralatan medis. Dan memeberitahu perawat senior kalau pasien setia sudah datang.
”loh sekarang nambah satu kantong lagi ya?” tanyaku
”iya mbak..!!!”
Si anak berbaring diatas ranjang dan sudah siap untuk ditusuk jarum infus. Lucu rasanya anak sekecil ini datang ke PMI (Palang Merah Indonesia) sendiri meminta darah setiap beberapa bulan sekali, dan ke rumah sakit sendiri minta untuk di tranfusi. Dia hapal kapan waktunya datang, dan apa saja yang harus dilakukan. Tidak ada orang tua yang mendampingi, ataupun mengantarnya seperti anak-anak pada umumnya. Belum lagi dia hidup dengan berjualan koran. Dia terlalu mandiri, dan terlalu kecil untuk menghadapi masalahnya sendiri.
Tranfusi pun selesai. Dua kantong darah dan larutan NaCl (cairan berisi larutan garam) telah masuk ke pembuluh darah. Begitu jarum infus dicabut anak itu langsung bangkit dari tempat tidur, dan menunggu aba-aba boleh pulang. Tentu saja dia tidak boleh langsung pulang. Dia harus mengunggu paling tidak sekitar 30 menit untuk melihat apakah ada reaksi buruk terhadap tranfusi tadi. Dia yang sudah biasa melakukan ini seolah tidak ada masalah dengan hal ini. Sambil menunggu dia bermain-main sendiri dan kadang menjahili orang-orang di sekitarnya. Sama sekali tidak nampak seperti pasien yang baru saja di tranfusi. Yah bagaimanapun dia Cuma anak-anak.
30 menit berlalu diapun segera bertanya apa dia boleh pergi sekarang. Sambil berlari-lari dan melompat-lompat menyanyikan lagu aneh, anak itu meninggalkan bangsal anak untuk hari ini. Kehidupan pun berlanjut untuknya sampai beberapa pekan yang akan datang. Yah.. Itulah anak penderita talasemia yang sangat terkenal diantara seluruh mahasiswa perawat dan pegawai rumah sakit umum dikotaku. Bahkan satpam rumah sakit pun sampai hapal dengannya.
Yup, itu sepenggal kisah yang kuketahui tentang dia. Tidak banyak yang kuketahui, tapi mataku menjadi saksi akan kehadiran anak itu. Mataku menjadi saksi pula akan kejadian-kejadian selanjutnya. Transfusi 2 kantong darah yang dilakukannya saat itu tidak cukup untuk membuatnya bertahan hidup beberapa bulan. Tranfusi yang dulunya dilakukan hanya 4 bulan sekali, akhirnya menjadi 3 bulan sekali, kemudian semakin lama semakin lebih sering, lebih sering, lebih sering dan lebih banyak. Hingga menjadi 2 minggu sekali. Kerusakan sel darah merah menjadi semakin parah, yang diikuti penumpukan zat besi dalam tubuh akibat transfusi yang terlalu sering. Yang membuat kerusakan parah pada organ hati, limpa, dan jantung. Itu sebabnya perutnya membuncit tidak normal, karena pembengkakan hati dan limpa. Dimana hati dan limpa akan sangat mudah cedera (ruptur) bahkan dengan trauma yang sangat ringan.
Apakah itu hidup namanya? Hidup yang bergantung pada darah, dan hidup yang dirusak oleh darah. Kulitnya semakin kelabu kekuning-kuningan, perutnya semakin membuncit, dia terus saja datang, kali ini dengan wajah yang tidak bersemangat tapi masih menyanyikan lagu aneh kesukaannya sambil membawa 2 kantong darah. Apa dia sadar bahwa ada sesuatu pada dirinya? Hingga harus terus transfusi, hingga dia harus terus kembali lagi ke bangsal ini setiap beberapa pekan. Jawabannya tidak, dia bahkan tidak tau bila dia mengalami kerusakan hati dan limpa.
Diakhir perkuliahan ketika aku sibuk mengadakan riset mengenai ”gatroentritis pada anak” (Diare anak), aku melihatnya di bangsal hematologi (penyakit hati). Dengan sekantong darah tergantung di tiang infus. Aku yang mengenalinya perlahan datang mendekat. Rupanya dia pun mengenaliku, entah mungkin karena saat itu aku mengenakan seragam putih atau karena dia benar-benar ingat.
”eh mbak..!” katanya sok kenal
”ngapain kamu disini, hayo mau gangguin orang ya” tanyaku sambil bercanda
”hehehe..” jawabnya mesem-mesem
Tidak ada jawaban yang dia keluarkan, tapi anak itu malah berlagak sok kuat berjalan-jalan membawa tiang infusnya dan mengganggu orang-orang disekitarnya yang bisa diganggu. Karena aku sudah tau tabiatnya kutinggalkan dia, dan membiarkannya sedikit bersenang-senang. Lagi pula dia masih anak-anak, dia layak bermain-main dengan teman sebayanya di bangsal yang sama. Bukan hanya merasakan pahit getar hidup diluar sebagai penjual koran.
Aku bergegas ke ruang perawat, dan membuka map status kesehatan klien, mencari-cari nama anak itu. Dia datang dengan keluhan sesak nafas, anoreksia (tidak nafsu makan), dan penurunan Haemoglobin (sel darah merah). Pada status kesehatan tertulis diagnosa ”Talasemia+hepatomegali+Hearth Failure Diases”. Talasemia dengan pembekakan hati, dan gagal jantung. Rupanya kerusakannya sudah sampai ke jantung. Huuuuhhhh…
Itu terakhir kali aku melihatnya. Setelah risetku tentang gastroentritis pada anak selesai, aku di pindah ke bangsal Internis (Penyakit Dalam) dan mendapatkan kasus Gangren Diabetes (luka borok akibat penyakit diabetes) sebagai bahan tugas akhir. Kemudian perkuliahanku selesai, dan aku tidak pernah kembali lagi ke bangsal itu.
Beberapa bulan setelah itu aku masih mendengar kabar dari adik kelasku bahwa dia masih terus datang dan pergi dari bangsal itu. Dengan lagu yang sama, karya dia sendiri. Tapi.. saat ini ketika aku menulis cerita ini, sudah 5 tahun tidak kudengar lagi kabar beritanya. Apakah dia masih terus hidup dengan kelainan darah, kerusakan hati, gagal jantung, dan hanya mengandalkan transfusi untuk menyambung nyawa. Atau….
Anak yang sangat berani menentang kehidupan. Berjuang untuk menyabung nyawanya beberapa bulan. Terus melakukannya demi kehidupan beberapa pekan. Yang tidak pernah lelah datang dan pergi mengunjungi bangsal anak sejak usia 2 tahun. Tidak pernah mau menyerah dengan takdir dan kabar buruk. Selalu ada kehidupan, dan kesempatan walaupun sedikit, walaupun sedetik, untuk orang-orang yang berusaha. Dan seperti yang selalu kubilang, apapun hasilnya itu adalah rahasia Tuhan. Karena Allah SWT membenci orang-orang yang berputus asa.
Bukankah dia benar-benar seoarang pemberani? Berani untuk hidup dan berani memilih cara mati dengan terhormat.
Seperti biasa, siapapun yang membaca kisah ini kuharap tergerak dihati kalian untuk diam sejenak mendo’akan, apapun, bagaimanapun dan dimanapun dia… kuharap dia benar-benar bahagia dan masih menyanyikan lagu anehnya.. Amien
I Must Be Strong
I must be strong and carry on.. coz i know i don’t belong here in heaven. Itu sepenggal kalimat dari “Tears in Heaven” by Eric Clapton. Bukan lagu baru memang, bahkan jadul. Namun beberapa hari ini ada seorang teman yang membawa lagu ini kembali jadi tenar di telingaku. Thank’s friend, inget ya loe masih hutang lumpia ma gue.
Siapa sih Eric Clapton sebenarnya ? i don’t know, whom ? Temanku bilang dia banyak belajar dari dia. Katanya dulu Eric adalah siswa terbodoh. Banyak hal yang membuatnya belajar untuk bangkit dan berkembang menjadi Eric yang sekarang.
Tapi orang yang berkata “i must be strong and carry on” bukan cuma Eric. Hampir setiap hari aku melihat orang-orang berusaha saling mendukung dan menguatkan. Semua orang pasti pernah membisikan kedalam hatinya ”aku pasti kuat”. Itu pula yang kudengar dari seoarang anak laki-laki berusia 17 tahun yang mengalami kanker stadium akhir.
Huuuuhh… aku ingin menarik nafasku sebentar, karena begitu berat untuk bercerita tentang dia. Anak laki-laki tampan berkulit bersih dengan tubuh seperti alien (i love u, dik) datang dengan wajah pucat dan nafas yang berat diantar keluarganya. Dia tidak kuat menopang berat tubuhnya sendiri. Bagian atas tubuhnya dari mulai pergelangan tangan hingga merambat ke leher, dada, bahu, dan pungung sebelah kanan membesar tidak normal seperti badan atlet binaraga. Sedang tubuh sebelah kiri dalam keadaan normal.
Dia tidak banyak bicara. Juga tidak banya meminta. Dia juga tak bisa lepas dari oksigen, dan tidak pula pernah turun menginjakkan kakinya ke lantai rumah sakit, sekalipun dia dirawat beberapa hari di sana.
Sebelum menjadi alien, itu hanyalah benjolan sebesar kutil di pergelangan tangan. Tapi mengejutkan karena benjolan ini tidak pernah hilang dan terus berkembang selama beberapa tahun ini. Lalu kemudian si anak berobat ke spesialis penyakit dalam dan terdiagnosa ini adalah kanker yang diperkirakan stadium awal. Kemudian oleh dokter tersebut si anak tadi dirujuk ke rumah sakit khusus kanker di Jakarta.
Entah apa yang membuat pertimbangan keluarga sehingga mereka berpikir dari pada di bawa ke Jakarta lebih baik dibawa ke Sabah, Malaysia. Mungkin mereka fikir Malaysia lebih berkualitas dari pada Jakarta. Sebenarnya tidak masalah dibawa kemana saja. Asalkan rumah sakit itu adalah rumah sakit yang berkompeten untuk penderita kanker. Sayangnya rumah sakit yang dia kunjungi itu adalah rumah sakit umum, sekalipun tampak megah tapi tetap saja kurang memenuhi standar untuk pengobatan kanker.
Begitu sampai di sabah malaysia, oleh dokter di rumah sakit tersebut si anak langsung dimasukkan ke kamar operasi dan dilakukan operasi. Sepintas sepertinya tindakan yang sigap dan cepat. Tapi berhati-hatilah dengan kanker. Kanker bukanlah penyakit yang bisa diajak buru-buru. Jangan pernah tergesa-gesa dengan kanker.
Setelah itu seperti biasa jaringan dari kanker tersebut diambil dan dikirim ke laboratorium untuk menentukan jenis kanker ini apakah jinak atau ganas. Dengan alasan yang tidak diketahui oleh keluarga, jaringan tadi dikirim ke laboratorium terkenal di singapura, dan baru sekitar 1 bulan bisa didapatkan hasilnya.
Operasi selesai, tanda-tanda vital pun baik saja. Si anak tidak mengeluh apapun hanya merasa agak nyeri di tangan. Kata dokter, itu biasa sehabis operasi. Yah, namanya juga habis operasi. Lagi pula itu bukan benjolan yang besar. Operasi kecil saja sudah cukup. Finally si anak boleh pulang. Hanya kontrol-kontrol saja sudah cukup.
Tapi yang terjadi diluar perkiraan. Hari ketiga setelah operasi seperti biasa dilakukan pemeriksaan pada daerah operasi. Si anak masih juga merasa nyeri di tangannya. Lalu pada bekas operasi ditemukan jaringan baru yang tumbuh, tangan si anak pun agak membengkak. Dokter mengira ini adalah infeksi pasca operasi. Akhirnya kepulangan si anak laki-laki itu ditunda.
Yang terjadi selanjutnya adalah tangan si anak terus membesar, membesar, dan membesar seperti balon yang ditiup hingga gelembungnya maksimal hanya dalam waktu beberapa minggu. Dalam waktu 1 bulan kanker telah menyebar ke daerah lengan atas, leher, dada, bahkan paru-paru sebelah kanan pun juga terkena dampaknya. Kanker yang tadinya diperkirakan hanya stadium awal berubah secara drastis menjadi stadium akhir hanya dalam waktu beberapa minggu.
Akhirnya setelah 1 bulan hasil laboratorium dari singapura pun datang. Pihak dokter dari Malaysia tidak menjelaskan apa hasil laboratorium ini. Hanya mengatakan bahwa ini adalah kanker ganas.
Terdesak dengan biaya, karena operasi yang diperkirakan hanya beberapa hari ternyata berlangsung lebih dari satu bulan membuat keluarga si anak terpaksa membawanya pulang ke indonesia. Dan dirujuk ke rumah sakit tempat aku bekerja saat itu.
Seperti yang kuceritakan, dia datang dengan tubuh seperti alien (love u, dik), wajah pucat, nafas satu-satu. Dengan penyebaran kanker telah mencapai tiga per empat paru-paru dan mendesak jantung. Huhhh…. dia masih sangat muda. Hanya 17 tahun. Atas permintaan keluarga, dia dirawat oleh dokter yang dulu merujuknya ke Jakarta.
Dokter itu kaget, perkembangannya terlalu cepat. Dan ditanya bagaimana pronologis kejadian sampai terjadi penurunan kondisi dan perkembangan kanker yang drastis. Kemudian keluarga mengaku bahwa mereka membawa si anak ke Malaysia, bukan ke rumah sakit kanker seperti yang disarankan dokter. Kemudian dokter meminta hasil pemeriksaan jaringan. Dan yang mengejutkan adalah ini adalah salah satu jenis kanker ganas yang tidak boleh sama sekali tersentuh pisau operasi. Cara penyembuhannya hanya dengan kemotheraphy. Kanker ini akan menjadi berkali-kali lipat ganas bila tersentuh pisau operasi. Masih teringat di kepalaku waktu itu dokter berkata ”Saya merujuk ke jakarta, karena mumpung kanker ini masih stadium awal, dan biasanya rumah sakit khusus kanker bisa membedakan dan menentukan tindakan apa yang tepat”
Keluarganya menangis, menyesal, minta maaf pada anaknya karena tidak membawanya ke rumah sakit kanker seperti yang disarankan dokter. Si anak laki-laki dengan selang oksigen dan wajah pucat menjawab dengan senyum yang dipaksakan,
”Ma, aku pasti kuat! Dan aku sudah siap!”
Entah apa maksudnya sudah siap, yang jelas keluarganya menangis tersedu-sedu. Segala sesuatu yang tidak di pegang oleh ahlinya tunggulah kehancurannya.
Aku ingin berhenti sejenak sebelum kuceritakan bagian akhir kisah nyata ini. Lagu ini kupersembahkan untuk kamu dik, dimanapun kamu berada, walaupun kamu tau suaraku tak semerdu suara malaikat yang mendampingimu, kupersembahkan untukmu ”Tears in Heaven” ♥
Would u know my name…
If i saw u in heaven…
Would it be the same…
If i saw u in heaven…
I must be strong…
And carry on…
Cause i know i don’t belong
Here in heaven…
Sebelum menarik nafasnya yang terakhir si anak meminta diselimuti. Temanku yang mendampinginya menyelimutinya setinggi dada. Lalu anak laki-laki itu meminta diselimuti lebih tinggi. Dan temanku pun menyelimuti setinggi leher. Tapi anak itu meminta diselimuti lebih tinggi lagi. Dia bilang menutupi seluruh kepalanya. Temanku menolak dan berkata ”segini aja ya dik, ayo istirahat lagi!”. tapi si anak menolak ditinggal dan minta ditemani. Tiba-tiba wajahnya nampak ketakutan. Anehnya temanku pun melihat bayangan gelap tinggi besar yang datang menghampiri anak itu. Lalu temanku bilang ”Jangan dilihat, tutup matamu!” si anak laki-laki itu menurut dia menutup matanya. Kemudian anak tersebut mengatakan permintaannya yang terakhir.
”Mbak, tuntun aku!”
Temanku tidak mengerti, mau dituntun kemana, tapi mulut anak laki-laki itu seperti mau mengucapkan kalimat yang sangat berat
”Asy… a..a..Asyhadu..aa..”
Temanku mengerti dan cepat-cepat menyempurnakan kalimatnya. Pelan-pelan temanku menuntunnya hingga terucap kalimat sempurna
”Asyhadu Anla Illa ha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadarasulullah”
Dik, sudah kuceritakan kisahmu kepada semua orang. Kuharap mereka belajar dengan cepat dari apa yang kamu alami. Do’aku bersamamu. Yuk kita do’a kan bersama-sama agar dia mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
To my friend: I learn from many accidents that happen on my eyes
Dia Yang Tak Boleh Menyerah
Beberapa hari yang lalu aku membaca sebuah blog luar biasa yang ditulis oleh orang yang luar biasa pula. Tak disangka bahwa dia hanya gadis belia yang berusia belasan tahun tapi cukup memukau dengan ketegaran dan semangatnya. Tak disangka tulisannya membuatku banyak bersyukur, bahkan saat aku menghadapi masalah yang selama ini kupikir cukup berat.
Kemudian timbul niatku untuk berkata “Jangan Pernah Menyerah” dan kalian tidak boleh menyerah. Tulisanku yang pertama ini kepersembahkan untuk Sasie Kirana.
Apakah Saya Tidak Berhak Sembuh
Sehari setelah aku membaca blog milik Sasie, seorang pasien datang ke klinik tempat aku bekerja. Bukan klinik besar, hanya klinik kecil di pinggiran kalimantan. Dengan empat tempat tidur. Pasien tersebut datang juga bukan dengan keluhan macam-macam. Tapi hanya mau suntik KB (Biasa ibu-ibu ).
Dan sejujurnya masalahnya bukan pada si ibu muda tersebut. Tapi si ibu bercerita tentang Ayahnya yang sedang terserang Kanker Usus Besar (CA Colon) stadium IV. Dan harus menjalani kemotherapy dan karena kanker tersebut berada di usus besar maka mau tidak mau terpaksa di lakukan Colostomy, atau semacam tempat pembuangan kotoran tanpa melewati anus. yah… dilubangi gitu deh perutnya.
Ada hal yang membuat terharu bahwa si Bapak tersebut saat ini telah berusia 70 tahun. Wooowwww….!!!!
Kita semua tahu bahwa proses kemotherapy tidaklah mudah, mulai dari muntah yang tak ada habis-habisnya, seluruh bulu dan rambut di tubuh rontok, dan tubuh rasanya tidak bersahabat, bahkan tidak sedikit orang yang mengalami perdarahan lambung.
Bayangkan ibarat racun yang disuntikkan ke dalam tubuh untuk menghentikan pertumbuhan tak terkontrol dari sel yang melekat dan tumbuh sebagai parasit ganas dalam tubuh kita. Menempel bersama organ-organ lainnya. Huuuhhh…!!!!
Yang menyuntikkan saja harus ekstra protective karena radiasi obat itu saja sudah bisa memotong DNA yang ada ditubuh. Itu sebabnya kemotherapy tidak dilakukan di semua rumah sakit. Tapi hanya pada rumah sakit tertentu yang memiliki proteksi yang baik.
Dan kabar baiknya adalah si Bapak berusia 70 tahun ini menjalani semua proses pengobatan yang melelahkan, menyakitkan, dan luar biasa menghabiskan banyak waktu, uang, dan tenaga. Padahal bila dia sedikit berpikir untuk apa capek-capek menyiksa diri dan menghabiskan uang untuk berobat, toh dia juga sudah 70 tahun. Yahhh… kata orang sih udah bau tanah (eh orang loh yang ngomong bukan aku! sueerrr!!! sssttt.. jangan bilang-bilang bapaknya ya… semoga bapak itu ga baca blog ini. Amien).
Dan sekarang si Bapak sudah beberapa kali bolak-balik Jakarta-kalimantan (naik pesawat lohh!!! bukan oplet). Setiap kali beliau pulang ke rumah keadaannya sungguh mengiris. Tapi si bapak tidak pernah berhenti tersenyum dan berlagak kuat seolah beliau ingin berkata “Aku baik-baik saja”. Hehehe.. kayak lagunya Ratu.
Terakhir kali beliau menjalani kemotherapy sekitar 2 minggu yang lalu. Si dokter yang menangani kasus bapak ini menggeleng-gelengkan kepalanya
“Apa yang membuat bapak terus datang kemari dan tetap ingin berobat, padahal kita tahu bahwa usia bapak sudah 70 tahun?” tanya si dokter
dan si bapak menjawab
“Apakah saya tidak berhak sembuh, dok? hanya karena saya berusia 70 tahun”
Semangat yang hebat dan luar biasa dari seorang bapak berusia 70 tahun. Tentu saja semua orang berhak sembuh, tentu saja semua orang berhak punya mimpi, cita-cita, harapan, tentu saja semua orang berhak mendapatkan pengobatan. Dan pintu keberhasilan terbuka selebar-lebarnya bagi orang-orang yang tidak pernah berhenti berusaha. Bagaimanapun hasilnya adalah rahasia Tuhan. Sekedar mengingatkan bahwa Allah SWT membenci orang-orang yang berputus asa.
-
Arsip
- Mei 2009 (1)
- Maret 2009 (3)
- Februari 2009 (2)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
Yang kupercaya sampai sekarang bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai kebaikan. Yang kupercaya bahwa selalu ada kesempatan bagi orang-orang yang berusaha. Bukan karena ngotot, kekeh, yang akhirnya bikin jengkel orang. Tapi aku percaya pada perjuangan yang tidak boleh berhenti sampai kita dapatkan hasil yang diinginkan. Terkadang kita harus menarik nafas sebentar dan beristirahat. Tapi itu bukan berarti kita boleh diam dan menyerah. Yang seharusnya kau lakukan adalah belajar dari kesalahan sebelumnya dan mencari cara baru untuk melangkah kedepan. Karena definisi bodoh adalah melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang kali. Tentu saja aku tidak ingin orang memangilku bodoh.