Januari. Selalu ada harapan di januari. Tapi buat sebagian orang seperti Glenn Fredly, januari merupakan akhir kisah mereka. Tapi tidak buatku. Hidupku baru saja dimulai di bulan pembuka tahun ini. Disinilah ujianku dimulai lagi. Ujian tentang keikhlasan, tentang kekuatan, semangat dan kerendahan hati. Narsis (bangeeetttt). Seorang teman dari aceh berkata padaku, cinta adalah bahagia saat melihat yang dicintainya bahagia. Cinta itu memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya, sekalipun kau berharap mengambil seluruhnya yang ada pada dirinya hingga tak tersisa satu tempat pun untuk yang lain. Yah… itu memang cinta.
Di januari 2009 aku kehilangan seorang pasien, setelah sekian lama tak pernah ada kematian di tanganku. Di januari seorang ibu berusia 45 tahun dengan usia kehamilan 40 minggu meninggal menggenaskan. Januari yang berat. Tapi seperti yang kubilang hidup baru saja dimulai. Aku bersyukur karena waktu itu sekalipun berat ada seorang teman yang selalu berkata ”jangan menyalahkan diri sendiri, jangan ditangisi, yang pergi memang harus pergi, kita tidak tahu kehendak Tuhan seperti apa, kita do’akan saja semoga dia mendapatkan tempat yang baik disisi-Nya”. Friend, kamu dimana sekarang?
Di januari, ada seorang anak Akademi Kebidanan (Akbid) yang numpang magang di klinik milik keluargaku. Hari pertama dia magang, ada seorang pasien yang hendak melahirkan. Dan ternyata suami dari si pasien itu mengenal baik anak Akbid tadi. Yang setelah diusut-usut mereka pernah dekat (loh… kok jadi gosip sih???). hehehe… Cuma sekedar intro doang. Well.. hari yang sama dan waktu yang sama pula dimana kami sedang menunggu si ibu sampai pembukaan lengkap, seorang ibu paruh baya sedang hamil tua, datang dengan nafas berat dan ngos-ngosan. Dia bilang manggah (bahasa banjar:capek/ngos-ngosan) habis jalan dari rumah. Dia mengeluh sakit pada bagian bawah dekat tulang kemaluan, sering kencing, dan dada agak sesak rasanya. Dia datang minta diperiksa apakah ada pembukaan karena dia sudah merasa perutnya kencang-kencang, dan memang sudah keluar lendir darah. Dia juga bilang perutnya agak perih, karena dia memang sudah lama punya penyakit maagh.
Apa aku sudah bilang kalau aku bekerja di klinik milik keluargaku. Jangan berfikir ini klinik besar. Ini hanya klinik kecil, dengan 4 tempat tidur. Klinik yang berada di pinggiran kota, dengan fasilitas seadanya. Ditengah kampung. Klinikku berada di diantara orang-orang yang hebat. Yang tau artinya menolong, menyayangi, dan saling menguatkan. Yah aku punya kewajiban untuk berterimakasih pada mereka semua. Terimakasih ya pak, terimakasih ya bu (he3x… seperti sambutan tujuh belasan), sekalipun kesannya seperti main-main tapi aku benar-benar berterimakasih.
And then, tanteku ternyata mengenal ibu paruh baya itu yang ternyata tinggal tidak jauh dari klinik. Tetangga kami. Tanteku juga hapal dengan taksiran persalinan yang ternyata sudah lewat bulan. Ibu paruh baya itu selama kehamilan, hanya beberapa kali saja datang untuk kontrol. Tidak tahu apa alasannya. Padahal rumahnya dekat sekali dengan klinik, hanya sekitar 100 meter. Tapi dari beberapa kali pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda peningkatan tekanan darah, atau pun keluhan yang berarti. Bahkan selama kehamilan tekanan darah beliau cenderung rendah. Namun yang mengejutkan hari itu si ibu mengalami peningkatan tekanan darah yakni 150/90 mmHg. Dari hasil auskultasi (itu loh yang dengerin bunyi jantung, paru-paru, bising usus,dll) tidak ditemukan weezing, murmur, ataupun krepitasi (pokoknya itu bunyi yang macem-macem di jantung ’n paru-paru deh. Titik. Ga’ pake penjelasan lagi). Kemudian pemeriksaan pun berlanjut apakah ada pembukaan jalan lahir atau tidak. Dan ternyata ada sekitar dua jari sempit. Yah.. sekedar pengetahuan buat kalian yang tidak tahu, bahwa pembukaan jalan lahir itu sampai sekitar 10 cm, baru boleh ngejan. Denyut jantung janin pun terdengar kuat dan kencang sekitar 142 kali/menit, yang menandakan janin dalam keadaan sehat.
Sangat penting bagi tim medis menurunkan tekanan darah pasien pada saat itu, mengingat ibu akan segera menghadapi proses kelahiran. So si ibu diberikan satu tablet penurun tekanan darah yang diminum langsung di klinik. Dan tablet antasida untuk mengurangi perih di lambungnya.
Karena pembukaan jalan lahir masih dua jari sempit, si ibu pun meminta ijin pulang dulu, dia bilang mau siap-siap di rumah. Melihat kondisi si ibu yang nampak tidak sehat ditambah tekanan darah yang meningkat, aku pun menawarkan diri untuk mengantar pulang. Si ibu menolak karena rumahnya sangat dekat. Tapi di kepalaku berfikir tidak boleh membiarkan pasien hipertensi melakukan pekerjaan sekecil apapun tanpa di dampingi, apalagi beliau baru saja minum obat penurun tekanan. Aku khawatir bila tekanan darah pasien turun tiba-tiba, pasien bisa syok dan jatuh pingsan. Itu yang ada di pikiranku saat itu. Sehingga aku terus memaksa, tapi si ibu terus saja menolak, dan kekeh untuk pulang sendiri.
Yang terjadi beberapa saat kemudian begitu cepat. Huuhhh…. aku berkewajiban menyampaikan pada banyak orang. Tentang kebenaran. Dan kuharap kalian belajar cepat dari cerita yang akan kusampaikan. Entah siapa yang salah dan siapa yang benar, dan aku pun tidak ingin membela diri. Kepada pihak keluarga kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sekedar flash back untuk mengenang beliau, ibu itu sangat baik dan ramah. Dia juga sangat sayang pada kami. Begitupun keluarganya. Terakhir yang beliau bilang, dia tidak mau anaknya lahir di tempat lain, dia hanya mau di klinik kami…Ya Allah.. ampuni kami kalau itu memang salah kami.
Begitu ibu itu pulang, dilakukan pemeriksaan ulang pada pasien pertama yang sedari tadi sudah kesakitan. Dan memang dari hasil pemerikasaan pembukaannya sudah hampir lengkap, tinggal menunggu sebentar lagi. Kami pun bersiap-siap memakai sarung tangan steril dan skot. Tapi… tiba-tiba pintu di ketok oleh seorang anak perempuan berusia sekitar 18 tahun.
”Bu bidan… ibu kejang… mulutnya keluar busa!!!”
Tanteku kaget dan langsung lari. Tanpa membawa apapun. Aku tau tanteku pasti butuh Tensimeter dan secepat mungkin aku mengejarnya di belakang, begitu tensi itu sampai di tangan beliau, tanteku langsung berteriak lagi ”oksigen!!!!”
Aku pun berlari sekencang mungkin, secepat aku bisa kembali ke klinik untuk mengambil oksigen. Dalam hati, sambil terus berlari aku berdo’a ”Ya Allah cepatkanlah kakiku berlari, secepat mungkin, ada orang yang nyawanya tergantung dari seberapa cepat kakiku!!!”
Sesampainya di klinik, secepat mungkin mengambil oksigen, dan secepat mungkin mengantar kembali kesana. Tapi tanteku sudah menyusul dengan angkot bersama pasien yang masih berbusa, diikuti keluarganya. Aku berlari mengantar oksigen ke angkot tersebut. Kemudian aku cepat-cepat masuk ke klinik dan mengambil cairan infus, infus set dan abocut. Aku tahu mereka pasti sangat butuh ini. Aku pun berlari mengejar angkot yang sudah jalan, secepat mungkin…. sekencang mungkin… dan akhirnya aku berhasil, cairan pun sudah kuberikan pada tanteku. Sekilas aku melihat pasien itu sudah biru.
Hidup harus berjalan. Ada seorang pasien lagi yang sedang menunggu di klinik. sekalipun lebih muda, tapi pasien itu pun sedang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan bayinya. Kemudian kuusap keringatku, dan mencoba menghirup nafas panjang, siap untuk menolong persalinan. Tidak boleh memanjakan hati. Aku harus lebih kuat dari siapapun. Karena pasienku tergantung padaku.
Ditengah persalinan tanteku datang, dengan wajah pucat. Membawa kabar buruk. Ibu itu meninggal. Tidak tertolong. Bayinya pun tidak bisa diselamatkan. Ibu dan janin, keduanya tidak ada yang selamat. Dua nyawa… Tuhan, dua nyawa…
Aku bisa melihat tanteku yang paling terpukul. Tapi beliau pula yang tampak paling tegar. Orang yang dikenalnya sangat baik, begitu ramah, percaya, dan menyayanginya meninggal di pelukannya tanpa bisa melakukan apapun. Kata tanteku waktu dia datang ibu itu sebenarnya sudah tidak ada, pupilnya dilatasi (pupil mata membesar), abnue (biru), pembuluh darahnya sudah kolaps (mengecil), sehingga tidak bisa dipasang infuse. Tapi tanteku berharap dia salah, jadi beliau tetap kekeh membawanya ke rumah sakit terdekat.
Pihak keluarga sempat menyalahkan kami, walaupun akhirnya mereka memaklumi. Obat yang kami berikan tadi dibawa ke rumah sakit dan ditunjukkan ke dokter. Tentu saja si dokter bilang itu tidak ada pengaruhnya, karena itu cuma obat maagh biasa. Bila melihat hasil visum dari kondisi mayat, kemungkinan ibu itu mengalami serangan jantung. Dan bila memang itu penyebabnya, saat serangan terjadi pasien hanya bisa bertahan selama 2 menit. Seharusnya tim medis lebih cepat dalam bertindak. Tapi kakiku sudah berlari secepat yang aku bisa… dan aku masih tidak berhasil menyusulnya.
Jangan bertanya apa yang kupikirkan saat itu. Aku pun tidak tahu apa yang ada dikepalaku, berbagai macam pengandaian datang penuh sesak memenuhi kepalaku dengan banyak teori-teori medis. Lalu seorang teman yang sangat ingin kudengar suaranya mengirim sms ”jangan menyalahkan diri sendiri, jangan ditangisi, yang pergi memang harus pergi, kita tidak tahu kehendak Tuhan seperti apa, kita do’akan saja semoga dia mendapatkan tempat yang baik disisi-Nya”
Sekarang kita sudah memasuki bulan maret. Temanku yang dulu memberikan kekuatan padaku, yang sudah beberapa minggu tak kudengar kabar beritanya, beberapa hari lalu memainkan gitarnya dan menyanyiakan lagu untukku yang berjudul ”Januari”.
Sebelum kalian meninggalkan blog ini meskipun disetiap cerita aku selalu meminta, aku mohon dengan sangat untuk diam beberapa saat kumohon bantu aku untuk berdo’a, Semoga Beliau di ampuni dosa-dosanya, diterima amal baiknya dan mendapat tempat terbaik disisi-Nya. Amien
Nb. Di januari kembali aku belajar, mencintai berarti mengikhlaskan agar dia bahagia. Mencintai berarti merendahkan hati, memberi semangat orang-orang yang kita cintai, dan menjadi kekuatan bagi mereka. Apa yang aku dapat? Yang kudapat adalah aku bisa melihat mereka tersenyum bahkan bila beruntung aku melihat mereka tertawa lepas … dan aku tidak menyakiti orang yang kucintai.